Showing posts with label quran. Show all posts
Showing posts with label quran. Show all posts
Sunday, December 30, 2012

mu’jizat Al-Quran Sudut Pandang Tulisan, Pembacaan, dan Pemahaman.


Kalimat-kalimat al-Quran adalah mu’jizat baik dari segi penulisan, pembacaan, maupun ‎penjelasaannya.‎
Kemu’jizatan bentuk tulisan al-Quran tampak pada perubahan bentuk sebagian kalimat ‎di berbagai ayat yang berbeda baik dengan penambahan huruf atau pengurangan (baik ‎huruf itu terbaca atau tidak) untuk memberi nuansa baru bagi beberapa makna yang ‎tidak mungkin ditemukan tanpa ada perubahan bentuk tulisan yang lazim digunakan. ‎
mujizat alquran

Allah SWT menghendaki kalimat pertama al-Quran yang diturunkan adalah kata ‎بسم ‏‎ ‎yang ditulis dalam bentuk yang berbeda dari biasanya dengan membuang huruf hamzah ‎wasal ketika disandarkan pada
READ MORE - mu’jizat Al-Quran Sudut Pandang Tulisan, Pembacaan, dan Pemahaman. belajar komputer
Thursday, December 27, 2012

Kaidah Pembuangan Huruf Dalam Al-Quran


selamat pagi, disini msutwiildan ingin berbagi kepada teman-teman semua tentang ilmu al-quran. dalam hal ini yang akan di bahas dalam tulisan ini adalah kaidah pembuangan huruf dalam al-quran. mau tau beberapa kaidah tersebut. simak yang berikut ini
Kaidah I. Pembuangan

A.‎ Pembuangan Alif
i.‎ Pembuangan alif pada Ya Nida (‎يا ‏‎ ) seperti contoah: ‎يأيها الناس, يرب
ii.‎ Pembuangan alif pada Hak tanbih , contoh:‎‏       هؤلاء, هأنتم ‏
iii.‎ Pembuangan alif pada tengah bebera kata baik berupa kata benda, ‎nama, atau jama’. Contoh‏:‏‎ ‎نريك, صلح, كتب, السموات, العلمين,‏
iv.‎ Pemugangan alif pada awal kata. Contoh:‎‏ لئيكة ‏
v.‎ Pembuangan alif pada akhir kata.contoh ‎جاءو, وباءو, وعتو, سعو, تبوءو, ‏أيه المؤمنون
vi.‎ Pembuangan alif wasal pada tengah beberapa kata. Contoh:‎بسم الله ‏الرحمن الرحيم, بسم الله مجريها ومرسها, وسئل, فسئل, فأتوا بسورة

Dalam kitab al-Miqna’, Al-Dani menjelaskan bahwa pembuangan alif ‎tersebut berfungsi untuk meringkas kata. Sedangkan pada basmalah, ‎pembuangan lebih sekedar banyaknya penggunaan. Menurut ‎pendapatku, disamping penjelasan al-Dani, pembugangan alif di sini ‎mempunyai rahasia makna yang akan saya ketengahkan.   ‎

B.‎ Pembuangan Ya’‎

i.‎ Pembuangan ya di tengah-tengah beberapa kata. Contoh: ‎إبرهــم, ‏النبيــن, الأميــن, إلــفهم, ولي الله‏
ii.‎ Pembuangan ya pada akhir beberapa kata sebabai berikut:‎
‎1.‎ pembuangan ya mutakallim wahdah karena pembacaan ‎kasroh huruf sebelumnya sudah dirasa cukup. 

Hal ini ‎sebagaimana pedapat Al-Dai dalam kita al-Miqna’ ‎meskipun menurutku, pembuangan itu masih menyisakan ‎misteri yang perlu pengajian lagi.‎

‎2.‎ pembuangan Ya asli pada kata fi’il. Contoh:‎‏ يوم يأت, ما كنا نبغ, ‏واليل إذا يسر, ننج المؤمنين.‏
‎3.‎ pembuangan Ya asli pada kata isim. Contoh:‎‏  فهو المهتد, بالواد, ‏الجوار, الداع, غير باغ ولا عاد.‏

C.‎ Pembuangan Wawu
i.‎ Pembuangan wawu pada keempat kata fi’il ( kata kerja) dalam ‎tingkah rafa’. Yaitu:‎
ii.‎ Pembuangan wawu pada akhir kata benda yang terdapat pada surat ‎al-Tahrim ayat empat yaitu: ‎وصلح المؤمنين‎ . kata itu asalnya adalah ‎وصلحوا المؤمنين ‏‎ . menurtu al-Dani kata itu adalah kata tunggal yang ‎bermakna jama’. Namun menurut pendapatku, pembuangan ini ‎menunjukkan kecepatan dan kesatuan orang yang mukmin yang ‎salih

iii.‎ Pembuangan wawu di tengah kata kerja yang ada pada surat al-‎Munafiqun ayat sepuluh yaitu ‎وأكن من الصالحين‎ . kata itu aslinya ‎adalah ‎وأكون من الصالحين‎ ‎
Menurut pendapatku, pembuangan ini senada dengan pembuangan ‎tak dan pengidghomannya pada huruf Shod yang terdapat pada kata ‎kerja sebelumnya yaitu ‎فأصدق وأكن من الصالحين‎ . hal itu menunukkan ‎betapa cepatnya kedua perbuatan itu dilakukan  ( bersedekah dan ‎bertransformasi menjadi orang yang shalih)‎

iv.‎ Pembuangan wawu yang merupakan bentuk hamzah. Contoh: ‎الرءيا, ‏رءياك, رءيــي, وتئوى, تئويه ‏‎ . menurut al-Dani pembuangan ini adalah ‎untuk menunjukkan hakikat. Saya tambahi bahwa pembuangan ini ‎mengindikasikan cepatnya peristiwa yang terdapat pada makna ‎kata tersebut.‎

v.‎ Pembuangan salah satu dari dua wawau karena dirasa cukup ‎dengan menulis salah satunya saja ketika wawu yang kedua ‎merupakan tanda jama’ atau masuk ke dalam bentuk kata. Contoh ‎wawu yang merupakan tanda jama’ adalah ‎لا تلون, لا يستون‎ . ‎sedangkan contoh wawu yang merupakan bagian kata adalah ‎ما ‏وري, الموءدة, داود.‏‎ . menurut pendapatku, pembuangan wawu di sini ‎menunjukkan cepatnya kejadian, kukuhnya kesatuan, dan ‎hubungan makna kata tersebut. Hal ini disesuaikan dengan kontek ‎kalimatnya. ‎

D.‎ Pembuangan Ta’‎
Berdasarkan hasil pengamatanku, pembuangan Ta’ terjadi pada:‎
‎1.‎ awal kata seperti ‎لا تكلم نفس ‏‎  yang aslinya ‎تتكلم ‏‎ dan ‎تذكرون‎ ‎yang aslinya ‎تتذكرون‎  . ‎
menurut pendapatku, pembuangan tak di sini  memberikan ‎makna segera atau cepat sesuai kontek kalimatnya
‎2.‎ di tengah kata seperti  ‎تسطع عليه صبرا‎ dan ‎فماسطاعوا‎ . ‎pembuagan tak di sini juga bermakna tergesa-gesa dan ‎cepat-cepat.‎
‎3.‎ di akhir kata seperti kata ‎ذهب السيئات عنى‎ , ‎وأخذ الذين ظلموا ‏الصيحة ‏‎ . begitu jua pembuangan tak pada kata-kata di atas ‎menunjukkan makna cepat meskipun dari segi bahasa ‎dimungkinkan bahwa kata kerjanya adalah mudzakkar ‎namun yang dikehendaki ketika dipilih penggunaan kata ‎kerja dalam bentuk mudzakkar di beberapa tempat hanya ‎saja ada juga penggunaan bentuk mu’annats di beberap ‎tempat yang lain

E.‎ Pembuangan Nun

‎1.‎ pembuangan nun di awal dua kata ‎فنجي من نشاء ‏‎ dan ‎وكذالك ‏ننجى المؤمنين‎ . pembuangan nun di sini berpaidah cepatnya ‎sebauh peristiwa.‎

‎2.‎ pembuangan nun di beberapa akhir kata seperti ‎يك ‏‎ dan ‎تك‎ ‎berpaidah menemehkan sesuatu. ‎

F.‎ Pembuangan Lam
Pembuangan lam dari tengah kata seperti contoh kata ‎واليل ‏‎ dan ‎الذى ‏‎ di seluruh ‎al-Quran.‎
‎ ‎
demikian kaidah pembuangan yang ada di dalam al-quran. selamat pagi dan salam sukses
READ MORE - Kaidah Pembuangan Huruf Dalam Al-Quran belajar komputer
Wednesday, December 26, 2012

Al-quran Nasibmu Pada Masa Nabi-Sahabat


ini dia sekilas tentang alquran pada masa nabi sampai dengan sahabat. pada tulisan ini lebih mengedepankan dari penulisan al-quran itu sendiri.

Pengumpulan al-Quran dalam pengertian penulisan al-Quran terjadi tiga fase. ‎Pertama pada masa Rosulullah SAW . Yang kedua pada kekhalifahan Abu Bakar. Dan ‎yang ketiga pada masa kekhalifahan Utsman. Pada fase terakhir inilah mushaf disalin dan ‎disebarluaskan ke seluruh wilayah Is

1. Penulisan al-Quran pada masa Rosulullah SAW

Ketika al-Quran diturunkan, Rosulullah SAW segera mengangkat juru tulis wahyu ‎dan menyuruh mereka utnuk menulisnya dalam rangka merekamnya dan berhati-hati ‎dalam hal Kitab Allah SWT sehingga tulisan itu akan memperkuat hafalan.‎
Para juru tulis wahyu itu berasal dari sahabat-sahabat pilihan. Mereka adalah Abu ‎Bakar, Umar, Utsman, Ali, Mu’awiyah, Aban bin Sa’id, Kholid bin Walid, Ubay bin ‎Ka’ab, Zaid bin Tsabit, Tsabit bin Qois, dan lainnya. Rosulullah SAW sendirilah yang ‎memberikan petunjuk mengenai letak suatu ayat dalam sebuah surat. Mereka menuliskan ‎al-Quran pada pelepah kurma, batu putih, kulit binatang, daun, dan tulang-tulang. ‎Kemudian meletakkan hasil tulisannya di rumah Rosulullah SAW .‎
Sampai sinilah, masa kenabian berakhir sedangkan al-Quran sudah terkumpul ‎hanya saja masih belum tertuliskan dalam lembaran-lembaran.‎
Diriwayatkan dari Ibn Abbas bahwa Rosulullah SAW ketika menerima sebuah ‎surat, beliau memanggil juru tulis. Kemudian beliau berkata,” Letakkan surat ini pada ‎tempat yang di dalamya disinggung masalah ini dan itu.”‎
Dan diriwayatkan dari Zaid bin Tsabit bahwa suatu ketika kami bersama ‎Rosulullah SAW mengumpulkan al-Quran pada kulit binatang. Kumpulan ini ‎merepresentasikan tata urutan ayat yang sesuai petunjuk Rosulullah SAW dan ketetapan ‎Jibaril As atas perintah Allah SWT .‎

2. Penulisan Al-Quran pada masa Abu Bakar


Abu Bakar dihadapkan pada peristiwa-peristiwa besar dan problem negara yang ‎sulit. Salah satunya adalah perang Yamamah pada tahun 12 H yang banyak menelan para ‎penghafal al-Quran.‎
Hal ini membuat Umar prihatin dan menemui Abu Bakar. Umar meminta Abu ‎Bakar untuk mengumpulkan al-Quran agar tidak sirna karena kematian para penghafal al-‎Quran. Allah SWT melapangkan hati Abu Bakar untuk megumpulkan al-Quran. Dan ‎dengan cahaya Allah SWT , abu Bakar menunjuk seorang sahabat pilihan yang bernama ‎Zaid bin Tsabit. Hal ini karena zaid bin Tsabit mempunyai kelebihan  yang tidak dimiliki ‎orang lain. Misalnya adalah ia adalah penulis wahyu, penghafal Al-Quran, dan ‎menyaksikan ayat terakhir pada detik-detik kematian Rosulullah SAW . di samping itu, ia ‎juga terkenal sebagai orang yang cerdas, sangat wira’i, agung amanatnya, dan konsisten ‎atas agamanya.‎
Dalam pengumpulan al-Quran, Zaid binTsabit menempuh metode yang ekstra ‎hati-hati yang dibuat oleh Umar dan Abu Bakar. Di sana ada jaminan bagi kehati-hatian ‎dalam Kitab Allah. Zaid tidak merasa cukup dengan apa yang ia tulis sendiri, tidak pula ‎dengan apa yang ia dengar sendiri. Tetap Zaid meneliti sangat teliti dengan bertendensi ‎atas dua sumber: ayat yang ditulis di hadapan Rosulullah SAW dan ayat yang dihafal ‎yang tersimpan di hari para penghafal al-Quran. Kehati-hatian dan ketelitiannya sampai ‎pada batas untuk tidak menerima apapun sehingga ada dua saksi yang adil yang bersaksi ‎bahwa hal itu benar-benar ditulis di hadapan Rosulullah SAW .‎
Berdasarkan aturan inilah proses pengumpulan al-Quran dan penulisannya selesai ‎atas jasa besar Abu Bakar dan Umar serta para sahabat-sahabat senior yang lain. Ali RA ‎berkata,” Orang yang paling besar pahalanya dalam penulisan al-Quran adalah Abu Bakar. ‎Kasih sayang Allah SWT atas Abu Bakar, orang yang pertama kali mengumpulkan Kitab ‎Allah SWT .” (HR. Ibn Abi Dawud).‎
Lembaran-lembaran al-Quran yang telah dikumpulkan Zaid bin Tsabit dengan ‎usaha yang maksimal itu telah diterima dan disimpan oleh Abu Bakar. Setelah Abu Bakar ‎meninggal, teks itu disimpan oleh Umar. Kemudian setelah Umar meninggal, Hafsoh, ‎putri Umar lah yang menyimpannya sampai diminta oleh Utsman sebagi sandaran dan ‎rujukan utama penyalinan al-Quran.‎

3. Penulisan al-Quran pada masa kekhalifahan Utsman

Wilayah Umat Islam pada masa Ustman telah meluas maka Umat islam pun ‎tersebar di seluruh penjuru. Mereka mengambil al-Quran dari para Sahabat ‎Nabi yang mereka kenal dengan segala fariasi perbedaan cara baca tanpa ada ‎al-Quran setandar yang menjadi rujukan.‎
Karena alasan inilah, Utsman berinisiatif untuk mengatasi fitnah ini sebelum ‎timbul fitnah yang lebih besar. Ia mengumpulkan para pembesar Sahabat untuk ‎mendiskusikan hal itu. Tecapailah kesepatan untuk menyalin al-Quran dan ‎menyebarkannya ke seluruh penjuru wilayah Islam serta memerintahkan ‎mereka membakar teks al-Quran selain kiriman utsman dan hanya berpegang ‎teguh pda teks itu.‎
Utsman segera melaksanakan keputusan itu di akhir tahun 24 H dan permulaan ‎tahun 25 H dengan membentuk tim penyalin al-Quran yang terdiri dari empat ‎orang, tiga orang dari suku Qurasih yaitu, Abdullah bin Zubair, Sa’id bin Ash, ‎Abdurrahman bin al-Harits bin Hisyam, dan satu dari Madinah yaitu Zaid bin ‎Tsabit.‎
Kemudian Utsman mengirim surat kepda Hafshoh bin Umar untuk meminta ‎al-Quran hasil kodifikasi pada masa Abu Bakar yang berada di tangannya. ‎Maka Hafshoh pun mengirim al-Quran itu kepada Utsman.‎
Tim penyalin al-Quran hanya menulis al-Quran setelah menawarkan kepada ‎mereka dan mereka mengakui bahwa Rosulullah SAW membacanya seperti ‎itu. ‎
Setelah Utsman selesai menyalin al-Quran, ia segera mengirim salinan itu ke ‎seluruh wilayah Islam dan memerintah untuk membakar teks al-Quran selain ‎kirimannya baik berupa lembaran atau buku. Maka digunakanlah mushaf itu. ‎
Mushaf itu mempunyai kelebiah dan keistimewaan sendiri. Misalnya:‎
‎1.‎ hanya terbatas pada ayat yang mutawatir
‎2.‎ tidak mencantumkan ayat yang pembcaanya sudah dihapus
‎3.‎ tata urutan surat-surat dan ayat seperti yang kita kenal ‎sekarang kecuali suhuf Abi Bakar yang di susun secara urut ‎ayat-ayatnya bukan surat-suratnya.‎
‎4.‎ penulisannya yang mengakomodir berbagai macam wajah ‎qiroat dan dialeg al-Quran
‎5.‎ membersihkannya dari hal-hal yang bukan al-Quran. Hal ini ‎seperti al-Quran yang ditulis para Sahabat disertai denga ‎penjelasan makna, naskh mansukh, atau yang lainnya.‎
‎6.‎ maka seluruh sahabat menyambut baik Utsman dan mereka ‎berkenan membakar dan sepakat  untuk merujuk kepad ‎rosm Utsmani
D.‎ ‎ Kesimpulan penulisan al-Quran ketiga fase
a.‎ Pengumpulan pada masa Nabi adalah istilah penulisan ayat, pengurutan, ‎peletakannya dalam surat tertentu tetapi masih terpisah-pisah pada tulang, ‎pelepah kurma, batu putih, dan lain sebagainya sesuai dengan alat tulis ‎yang ada pada saat itu.‎
b.‎ Pengumpulan pada masa Abu baker adalah istilah pemindahan al-Quran ‎dan penulisannya dalam lembaran-lembaran secara urut. Tujuannya adalah ‎mendokumentasikan al-Quran secara utuh dan tertib karena dikhawatirkan ‎akan ada bagian al-Quran yang hilang sebab kematian para Sahabat ‎penghafal al-Quran
c.‎ Pengumpulan pada masa Utsman adalah istilah pemindahan teks al-Quran ‎pada Mushaf Imam dan penyalinannya menjadi beberapa mushaf yang ‎dikirim ke seluruh penjuru wilayah Islam

Keterangan:‎
Perlu diketahui bahwa penulisan al-Quran pada saat itu belum ada tanda titik atau ‎harakat. Titik, harakat, dan tulisan huruf yang dibuang bertujuan untuk mempermudah ‎pembacaan al-Quran di periode akhir ketika di dunia Islam kemasukan orang-orang selain ‎Arab.‎

READ MORE - Al-quran Nasibmu Pada Masa Nabi-Sahabat belajar komputer

Al-Fatihah Bukan Ayat Pertama Turun, Kenapa Berada di Awal?


mau tahu kenapa surat al fatihah berada di awal al-quran, padahal ayat pertama turun bukanlah surat al fatihah melainkan al 'Alaq. disini mustwildan ingin berbagi tentang tata letak atau urutan al-quran.
sebenarnya siapa sih yang mengurutkan alquran.
Secara umum, mengenahi urutan penempatan surat, para ulama terbagi menjadi dua:‎
  1. ‎Mayoritas ulama berpendapat bahwa tata urutan surat-surat al-Quran adalah bersifat ijtihadi ‎(usaha pemikiran) yakni hasil pemikiran para sahabat termasuk Sahabat Utsman dan lain-lain. Hal ini dibuktikan oleh ‎beberapa mushaf dahulu yang mempunyai tata urutan yang berbeda. Misalnya mushaf Sahabat ‎Ali yang disusun berdasarkan urutan penurunan ayat (asbabun Nuzul)‎
  2. ‎Tata urutan surat-surat dalam Al-Quran adalah bersifat tauqifi yakni atas petunjuk Rosulullah ‎SAW bukan hasil pemikiran para Sahabat. Pendapat ini didasarkan pada berbagai riwayat ‎dibawah ini.‎

Mengacu pada pendapat kedua, penempatan surat Al-Fatihah menjadi surat pertama adalah atas ‎‎`petunjuk nabi. Namun peletakkan surat al-Fatihah menjadi pembuka sangat logic karena hal itu sesuai  ‎dengan arti nama surat al-Fatihah sendiri yaitu pembuka. ‎

READ MORE - Al-Fatihah Bukan Ayat Pertama Turun, Kenapa Berada di Awal? belajar komputer
Thursday, December 13, 2012

Benarkah al-quran dan Hadits Qudsi Berbeda


  1. ‎Wahyu Al-Quran

Menurut etimologi, wahyu diderifasi dari akar kata awhaa-yuuhii-iiha-an yang ‎artinya memberitahu sesuatu yang samar secara cepat. Adapun pengertian Al-‎Quran secara etimologi terdapat perbedaan pendapat di antara para ulama. Dalam ‎kitab Ulum Al-Quran wa al-Hadits disebutkan sedikitnya ada enam pendapat ‎mengenai pengertian Al-Quran dari segi etimologi ini, yaitu ‎:‎

  1. Imam Syafi’i berpendapat bahwa Al-Quran merupakan nama yang ‎independent, tidak diderivasi dari kosakata apapun. Ia merupakan nama ‎yang khusus digunakan untuk firman Allah yang diturunkan kepada Nabi ‎Muhammad saw.‎
  2. Menurut Imam al-Farra’ kata Al-Quran diderivasi dari kata benda qarain, ‎bentuk jama’ dari qarinah yang mempunyai arti indikator. Disebut dengan ‎Al-Quran karena sebagian ayatnya menyerupai sebagian ayat yang lain ‎sehingga seakan-akan ia menjadi indikator bagi sebagian ayat yang lain ‎tersebut.‎
  3. Imam al-Asy‘ari dan sebagian ulama yang lain menyatakan bahwa kata Al-‎Quran diderivasi dari masdar qiran yang mempunyai arti bersamaan atau ‎beriringan. Disebut dengan Al-Quran karena surat, ayat, dan huruf yang ‎ada di dalamnya saling beriringan.‎
  4. Imam al-Zajjaj berpendapat bahwa kata Al-Quran diderivasi kata benda ‎qur-u yang mempunyai arti kumpulan. Menurut beliau dinamakan dengan ‎Al-Quran karena mengumpulkan intisari beberapa kitab yang diturunkan ‎sebelum Al-Quran.‎
  5. Menurut al-Lihyani, kata Al-Quran diderivasi dari fi’il qaraa yang ‎mempunyai arti membaca. Oleh karena itu, kata Al-Quran merupakan ‎bentuk masdar yang sinonim dengan kata qira'ah (pendapat yang terakhir ‎ini merupakan pendapat yang paling kuat).
  6. Sebagian ulama mutaakhkhirin sependapat dengan pandangan yang ‎menyatakan bahwa Al-Quran berasal dari kata kerja qara'a yang ‎mempunyai arti mengumpulkan atau menghimpun dengan dalil firman ‎Allah:‎

إِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهُ وَقُرْآنَهُ
Artinya: “Sesungguhnya atas tanggungan kamilah mengumpulkannya (di ‎dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya”. (Q. S al-Qiyamah: 17). ‎

Sedangkan Al-Quran secara terminologi adalah firman Allah yang berbahasa ‎Arab, yang dapat melemahkan musuh (al-mu’jiz), diturunkan kepada Nabi ‎Muhammad, ditulis di dalam mushaf, dan ditranformasikan secara tawatur serta ‎membacanya termasuk ibadah.‎

2. ‎Hadis Qudsi
Pengertian hadis adalah sebagaimana penjelasan di atas. Sedangkan kata qudsi ‎yang dinisbahkan kepada al-quds secara etimologi berarti kebersihan dan kesucian. ‎Dengan demikian, hadis qudsi adalah hadis yang dinisbahkan kepada Dzat yang ‎Maha Suci, yaitu Allah swt. Secara terminologis pengertian hadis qudsi terdapat ‎dua versi. (1) Hadis qudsi merupakan kalam Allah Swt (baik dalam substansi ‎maupun struktur bahasanya), dan Nabi hanya sebagai orang yang menyampaikan. ‎‎(2) Hadis qudsi adalah perkataan dari Nabi, sedangkan isi dari perkataan tersebut ‎berasal dari Allah SWT. Maka dalam redaksinya sering memakai ‎قال الله تعالى‎. ‎ 
    Dalam hal ini peneliti lebih condong pada pengertian hadis qudsi yang kedua. ‎Dengan alasan untuk membedakan antara Al-Quran dan hadis qudsi dalam proses ‎terjadinya. Contoh hadis qudsi adalah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah ‎ra.‎
      روى أبو هريرة رضي الله عنه قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ، يقول الله تعالى أنا ‏عند ظن عبدي بي وأنا معه حين يذكرني فإن ذكرني في نفسه ذكرته في نفسي وإن ذكرني ‏في ملأ ذكرته في ملأ خير منهم (أخرجه البخاري ومسلم في صحيحيهما)‏


        ‎3.‎ Hadis Nabawi
          Menurut istilah hadis Nabawi ialah apa saja yang disandarkan kepada Nabi ‎Muhammad saw, baik berupa perkataan, perbuatan, persetujuan, maupun karakter ‎beliau. Contoh hadis Nabawi yang berupa perkataan (qauli) adalah perkataan Nabi ‎Muhammad saw:‎
            إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى (اخرجه البخارى ومسلم)‏
              Contoh hadis yang berupa perbuatan (fi'li) ialah‏:‏
                حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ بُكَيْرٍ قَالَ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِى جَعْفَرٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ ‏عَنْ عُرْوَةَ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ النَّبِىُّ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَنَامَ وَهْوَ جُنُبٌ ، غَسَلَ فَرْجَهُ ، وَتَوَضَّأَ ‏لِلصَّلاَةِ (أخرجه البخاري)‏

                    Contoh hadis berupa ketetapan (taqriri) ialah‎‏:‏
                      عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ خَالَتَهُ أَهْدَتْ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم سَمْنًا وَأَضُبًّا وَأَقِطًا فَأَكَلَ ‏مِنَ السَّمْنِ وَمِنَ الأَقِطِ وَتَرَكَ الأَضُبَّ تَقَذُّرًا وَأُكِلَ عَلَى مَائِدَتِهِ وَلَوْ كَانَ حَرَامًا مَا أُكِلَ عَلَى ‏مَائِدَةِ رَسُولِ اللَّهِ‎ ‎‏(أخرجه ابو داود واحمد)‏
                        Contoh hadis berupa sifat atau karakter (wasfi) ialah‏:‏
                          كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم رَبْعَةً لَيْسَ بِالطَّوِيلِ وَلاَ بِالْقَصِيرِ حَسَنَ الْجِسْمِ أَسْمَرَ ‏اللَّوْنِ وَكَانَ شَعْرُهُ لَيْسَ بِجَعْدٍ وَلاَ سَبْطٍ إِذَا مَشَى يَتَكَفَّ (أخرجه الترمذى)‏
                            Hadis Nabawi dilihat dari proses terjadinya dibagi menjadi dua ‎. Pertama, ‎Tauqifi, yaitu hadis yang kandungan maknanya diterima oleh Rasulullah saw dari ‎wahyu, kemudian beliau menjelaskan kepada manusia dengan redaksi (susunan ‎kata) beliau sendiri. Meskipun kandungannya dinisbahkan kepada Allah, tetapi ‎dari segi pembicaraan lebih layak dinisbahkan kepada Rasulullah saw, sebab kata-‎kata itu dinisbahkan kepada yang mengatakannya meskipun di dalamnya terdapat ‎makna yang diterima dari pihak lain.‎
                              Kedua, taufiqi yaitu yang disimpulkan oleh Rasulullah saw menurut ‎pemahamannya terhadap Al-Quran, karena beliau mempunyai tugas menjelaskan ‎Al-Quran atau menyimpulkannya dengan pertimbangan dan perenungan ijtihad ‎beliau. Kesimpulan beliau yang bersifat ijtihad ini diperkuat oleh wahyu jika benar, ‎dan bila terdapat kesalahan, turunlah wahyu yang membetulkannya. Dengan ‎demikian berarti hadis Nabawi bukanlah kalam Allah secara pasti. ‎
                                Dari sini, jelaslah bahwa hadis Nabawi dengan kedua bagiannya yang tauqifi ‎atau yang taufiqi bersumber dari wahyu. Inilah makna dari firman Allah tentang ‎Rasul-Nya, "Dia (Muhammad) tidak berbicara menurut hawa nafsunya. Apa yang ‎diucapkannya itu tidak lain hanyalah wahyu yang diturunkan kepadanya." (An-‎Najm: 3-4).‎
                                  Dari uraian singkat di atas dapat kita ketahui beberapa perbedaan dari ‎ketiganya.‎


                                  Perbedaan antara Al-Quran dengan hadis qudsi adalah sebagai berikut ‎:‎
                                  • ‎Al-Quran secara struktur dan substansi bahasanya berasal dari Allah. Hadis ‎qudsi redaksi bahasanya berasal dari Nabi sedangkan substansi  isinya ‎berasal dari Allah.‎
                                  • ‎Redaksi yang digunakan oleh Nabi pada Al-Quran adalah Allah telah ‎berfirman, sedangkan redaksi dalam hadis qudsi menggunakan kalimat; ‎Allah telah meriwayatkan kepadaku.‎
                                  • ‎Al-Quran merupakan ibadah jika dibaca, sedangkan hadis qudsi tidak ‎demikian.‎
                                  • ‎Al-Quran merupakan mu'jizat sedangkan hadis qudsi tidak.‎
                                  • ‎Al-Quran hanya diturunkan melalui perantara malaikat Jibril, sedangkan ‎hadis qudsi bisa dengan melalui ilham maupun mimpi.

                                  sedangkan Perbedaan antara hadis qudsi dengan hadis nabawi dapat dikatakan jika hadis qudsi ada kaitannya dengan Allah (ada nisbat) meskipun hanya ‎dalam aspek bahasanya. Hal ini berbeda dengan hadis nabawi yang mana ‎substansi maupun bahasanya berasal dari Nabi.‎ ‎ Meskipun demikian bukan ‎berarti apa yang dikatakan oleh Nabi merupakan sesuatu yang berasal dari ‎nafsu belaka, akan tetapi mempunyai pengertian hadis nabawi dalam proses ‎terungkapkannya oleh nabi tidak harus menunggu wahyu dari Allah.
                                  READ MORE - Benarkah al-quran dan Hadits Qudsi Berbeda belajar komputer