Showing posts with label sejarah. Show all posts
Showing posts with label sejarah. Show all posts
Sunday, January 6, 2013

NU moderat, Konservatif atau Liberal?

<img src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEizEjRfAaNzA4uhJ8fpyDV5-QqvGKfnsuTZW9NRv9fWVjYM8B-k5QN-jUy3ssg0qPZtZpKBE2yELIYe8DYfklrSzXvC9fmtXMOp0SFKwwMvXR6NNKApl2BpwJr9IWMYP8fkDHCv4RJ_9A/s1600/nu.jpg" alt="NU nahdlatul ulama"/>
NU

NU moderat, Konservatif atau Liberal? bagi umat islam indonesia tentu sudah tahu apa dan siapa nu,apa lagi indonesia merupakan mayoritas penduduknya beragama islam sejarah masuknya klik disini. disini saya hanya mau menjelaskan sedikit tentang jalur pemikiran organisasi islam
READ MORE - NU moderat, Konservatif atau Liberal? belajar komputer
Wednesday, December 26, 2012

Al-quran Nasibmu Pada Masa Nabi-Sahabat


ini dia sekilas tentang alquran pada masa nabi sampai dengan sahabat. pada tulisan ini lebih mengedepankan dari penulisan al-quran itu sendiri.

Pengumpulan al-Quran dalam pengertian penulisan al-Quran terjadi tiga fase. ‎Pertama pada masa Rosulullah SAW . Yang kedua pada kekhalifahan Abu Bakar. Dan ‎yang ketiga pada masa kekhalifahan Utsman. Pada fase terakhir inilah mushaf disalin dan ‎disebarluaskan ke seluruh wilayah Is

1. Penulisan al-Quran pada masa Rosulullah SAW

Ketika al-Quran diturunkan, Rosulullah SAW segera mengangkat juru tulis wahyu ‎dan menyuruh mereka utnuk menulisnya dalam rangka merekamnya dan berhati-hati ‎dalam hal Kitab Allah SWT sehingga tulisan itu akan memperkuat hafalan.‎
Para juru tulis wahyu itu berasal dari sahabat-sahabat pilihan. Mereka adalah Abu ‎Bakar, Umar, Utsman, Ali, Mu’awiyah, Aban bin Sa’id, Kholid bin Walid, Ubay bin ‎Ka’ab, Zaid bin Tsabit, Tsabit bin Qois, dan lainnya. Rosulullah SAW sendirilah yang ‎memberikan petunjuk mengenai letak suatu ayat dalam sebuah surat. Mereka menuliskan ‎al-Quran pada pelepah kurma, batu putih, kulit binatang, daun, dan tulang-tulang. ‎Kemudian meletakkan hasil tulisannya di rumah Rosulullah SAW .‎
Sampai sinilah, masa kenabian berakhir sedangkan al-Quran sudah terkumpul ‎hanya saja masih belum tertuliskan dalam lembaran-lembaran.‎
Diriwayatkan dari Ibn Abbas bahwa Rosulullah SAW ketika menerima sebuah ‎surat, beliau memanggil juru tulis. Kemudian beliau berkata,” Letakkan surat ini pada ‎tempat yang di dalamya disinggung masalah ini dan itu.”‎
Dan diriwayatkan dari Zaid bin Tsabit bahwa suatu ketika kami bersama ‎Rosulullah SAW mengumpulkan al-Quran pada kulit binatang. Kumpulan ini ‎merepresentasikan tata urutan ayat yang sesuai petunjuk Rosulullah SAW dan ketetapan ‎Jibaril As atas perintah Allah SWT .‎

2. Penulisan Al-Quran pada masa Abu Bakar


Abu Bakar dihadapkan pada peristiwa-peristiwa besar dan problem negara yang ‎sulit. Salah satunya adalah perang Yamamah pada tahun 12 H yang banyak menelan para ‎penghafal al-Quran.‎
Hal ini membuat Umar prihatin dan menemui Abu Bakar. Umar meminta Abu ‎Bakar untuk mengumpulkan al-Quran agar tidak sirna karena kematian para penghafal al-‎Quran. Allah SWT melapangkan hati Abu Bakar untuk megumpulkan al-Quran. Dan ‎dengan cahaya Allah SWT , abu Bakar menunjuk seorang sahabat pilihan yang bernama ‎Zaid bin Tsabit. Hal ini karena zaid bin Tsabit mempunyai kelebihan  yang tidak dimiliki ‎orang lain. Misalnya adalah ia adalah penulis wahyu, penghafal Al-Quran, dan ‎menyaksikan ayat terakhir pada detik-detik kematian Rosulullah SAW . di samping itu, ia ‎juga terkenal sebagai orang yang cerdas, sangat wira’i, agung amanatnya, dan konsisten ‎atas agamanya.‎
Dalam pengumpulan al-Quran, Zaid binTsabit menempuh metode yang ekstra ‎hati-hati yang dibuat oleh Umar dan Abu Bakar. Di sana ada jaminan bagi kehati-hatian ‎dalam Kitab Allah. Zaid tidak merasa cukup dengan apa yang ia tulis sendiri, tidak pula ‎dengan apa yang ia dengar sendiri. Tetap Zaid meneliti sangat teliti dengan bertendensi ‎atas dua sumber: ayat yang ditulis di hadapan Rosulullah SAW dan ayat yang dihafal ‎yang tersimpan di hari para penghafal al-Quran. Kehati-hatian dan ketelitiannya sampai ‎pada batas untuk tidak menerima apapun sehingga ada dua saksi yang adil yang bersaksi ‎bahwa hal itu benar-benar ditulis di hadapan Rosulullah SAW .‎
Berdasarkan aturan inilah proses pengumpulan al-Quran dan penulisannya selesai ‎atas jasa besar Abu Bakar dan Umar serta para sahabat-sahabat senior yang lain. Ali RA ‎berkata,” Orang yang paling besar pahalanya dalam penulisan al-Quran adalah Abu Bakar. ‎Kasih sayang Allah SWT atas Abu Bakar, orang yang pertama kali mengumpulkan Kitab ‎Allah SWT .” (HR. Ibn Abi Dawud).‎
Lembaran-lembaran al-Quran yang telah dikumpulkan Zaid bin Tsabit dengan ‎usaha yang maksimal itu telah diterima dan disimpan oleh Abu Bakar. Setelah Abu Bakar ‎meninggal, teks itu disimpan oleh Umar. Kemudian setelah Umar meninggal, Hafsoh, ‎putri Umar lah yang menyimpannya sampai diminta oleh Utsman sebagi sandaran dan ‎rujukan utama penyalinan al-Quran.‎

3. Penulisan al-Quran pada masa kekhalifahan Utsman

Wilayah Umat Islam pada masa Ustman telah meluas maka Umat islam pun ‎tersebar di seluruh penjuru. Mereka mengambil al-Quran dari para Sahabat ‎Nabi yang mereka kenal dengan segala fariasi perbedaan cara baca tanpa ada ‎al-Quran setandar yang menjadi rujukan.‎
Karena alasan inilah, Utsman berinisiatif untuk mengatasi fitnah ini sebelum ‎timbul fitnah yang lebih besar. Ia mengumpulkan para pembesar Sahabat untuk ‎mendiskusikan hal itu. Tecapailah kesepatan untuk menyalin al-Quran dan ‎menyebarkannya ke seluruh penjuru wilayah Islam serta memerintahkan ‎mereka membakar teks al-Quran selain kiriman utsman dan hanya berpegang ‎teguh pda teks itu.‎
Utsman segera melaksanakan keputusan itu di akhir tahun 24 H dan permulaan ‎tahun 25 H dengan membentuk tim penyalin al-Quran yang terdiri dari empat ‎orang, tiga orang dari suku Qurasih yaitu, Abdullah bin Zubair, Sa’id bin Ash, ‎Abdurrahman bin al-Harits bin Hisyam, dan satu dari Madinah yaitu Zaid bin ‎Tsabit.‎
Kemudian Utsman mengirim surat kepda Hafshoh bin Umar untuk meminta ‎al-Quran hasil kodifikasi pada masa Abu Bakar yang berada di tangannya. ‎Maka Hafshoh pun mengirim al-Quran itu kepada Utsman.‎
Tim penyalin al-Quran hanya menulis al-Quran setelah menawarkan kepada ‎mereka dan mereka mengakui bahwa Rosulullah SAW membacanya seperti ‎itu. ‎
Setelah Utsman selesai menyalin al-Quran, ia segera mengirim salinan itu ke ‎seluruh wilayah Islam dan memerintah untuk membakar teks al-Quran selain ‎kirimannya baik berupa lembaran atau buku. Maka digunakanlah mushaf itu. ‎
Mushaf itu mempunyai kelebiah dan keistimewaan sendiri. Misalnya:‎
‎1.‎ hanya terbatas pada ayat yang mutawatir
‎2.‎ tidak mencantumkan ayat yang pembcaanya sudah dihapus
‎3.‎ tata urutan surat-surat dan ayat seperti yang kita kenal ‎sekarang kecuali suhuf Abi Bakar yang di susun secara urut ‎ayat-ayatnya bukan surat-suratnya.‎
‎4.‎ penulisannya yang mengakomodir berbagai macam wajah ‎qiroat dan dialeg al-Quran
‎5.‎ membersihkannya dari hal-hal yang bukan al-Quran. Hal ini ‎seperti al-Quran yang ditulis para Sahabat disertai denga ‎penjelasan makna, naskh mansukh, atau yang lainnya.‎
‎6.‎ maka seluruh sahabat menyambut baik Utsman dan mereka ‎berkenan membakar dan sepakat  untuk merujuk kepad ‎rosm Utsmani
D.‎ ‎ Kesimpulan penulisan al-Quran ketiga fase
a.‎ Pengumpulan pada masa Nabi adalah istilah penulisan ayat, pengurutan, ‎peletakannya dalam surat tertentu tetapi masih terpisah-pisah pada tulang, ‎pelepah kurma, batu putih, dan lain sebagainya sesuai dengan alat tulis ‎yang ada pada saat itu.‎
b.‎ Pengumpulan pada masa Abu baker adalah istilah pemindahan al-Quran ‎dan penulisannya dalam lembaran-lembaran secara urut. Tujuannya adalah ‎mendokumentasikan al-Quran secara utuh dan tertib karena dikhawatirkan ‎akan ada bagian al-Quran yang hilang sebab kematian para Sahabat ‎penghafal al-Quran
c.‎ Pengumpulan pada masa Utsman adalah istilah pemindahan teks al-Quran ‎pada Mushaf Imam dan penyalinannya menjadi beberapa mushaf yang ‎dikirim ke seluruh penjuru wilayah Islam

Keterangan:‎
Perlu diketahui bahwa penulisan al-Quran pada saat itu belum ada tanda titik atau ‎harakat. Titik, harakat, dan tulisan huruf yang dibuang bertujuan untuk mempermudah ‎pembacaan al-Quran di periode akhir ketika di dunia Islam kemasukan orang-orang selain ‎Arab.‎

READ MORE - Al-quran Nasibmu Pada Masa Nabi-Sahabat belajar komputer
Monday, December 24, 2012

Daulah Mughal, Tiga Kerajaan Besar Islam Pasca Dinasti Abbasiyah (III)



Kerajaan ini didirikan oleh Zahiruddin Muhammad Babur pada tahun 1526 keturunan Timur Lenk dari etnis Turki-Mongol. Daulah ini berpusat di India dan berkuasa selama 3 abad sampai dengan tahun 1858 M. setelah mengalahkan pasukan Ibrahim dinasti ini memerdekakan dirinya sebagai kerajaan Islam yang kuat di India.
Masa kejayaan dinasti ini terjadi ketika kepemimpinan Akbar I (1556). Adapun kemajuan peradaban dinasti mughal terbukti dalam berbagai hal. Dalam sector ekonomi mughol telah mengekspor hasil pertanian dan pertambangannya ke Eropa, Afrika , dan Asia, karena India pada waktu itu menjadi pusat ekonomi dunia. Dalam bidang pertanian Mughal telah meninggalkan kebiasaan lama dan mengganti dengan system pertanian yang efektif yaitu memanfaatkan sungai-sungai sebagai sumber pengairan tanaman mereka. Dalam sector militer dinasti Mughal sangat kuat terbukti dengan adanya pasukan kuda, gajah, jalan kaki, pengangkut barang yang sangat banyak pasukan ini sebagai benteng pertahanan daulah Mughal. Sedangkan sector keilmuan dinasti ini sangat kurang, yang terlihat sangat maju adalah bidang ekonomi seperti kerajinan tangan dan berdirinya berbagai pabrik pakaian.  
Pada tahun 1858 M kerajaan ini hancur dikalahkan oleh colonial Inggris. Selain itu juga terdapat beberapa sebab yang mengakibatkan runtuhnya kerajaan ini diantaranya adalah sifat hedonis para pengusa, pemimpin yang tidak kompeten, tidak adanya perhatian khusus dalam bidang militer, dan pemberontakan yang dilakukan oleh umat hindu. Dengan propaganda inggris yang begitu manis serta memanfaatkan umat Hindu akhirnya mereka dapat meruntuhkan kerajaan Mughal.
daulah mughal adalah salah satu kerajaan islam besar setelah dinasti abbasiyah, jumlah kerajaan islam setelah daulah abbasiyah sangatlah banyak. dan yang terbesar salah satunya adalah daulah mughal, selain itu adalah daulah utsmaniyah dan safawiyah. untuk mengetahui sejarah ketiga kerajaan islam tersebut bisa di klik disini, daulah utsmaniyah, daulah safawiyah
READ MORE - Daulah Mughal, Tiga Kerajaan Besar Islam Pasca Dinasti Abbasiyah (III) belajar komputer

Daulah Safawiyah, Tiga Kerajaan Besar Islam Pasca Dinasti Abbasiyah (II)



Daulah Safawiyah berdiri pada tahun 1501 di Persia. Pendirinya adalah Syah Ismail, adapun nama Safawiyah dinisbahkan kepada nama Thariqah Safawiyah yang didirikan oleh Safiuddin Ishaq (1252-1334) di Ardabil Azerbayen. Sebenarnya Daulah Sawafiyah merupakan lembaga tasawuf atau thariqah, namun seiring berkembangnya zaman beralih menjadi gerakan religious-politik. Daulah inilah yang menjadi cikal bakal Negara Iran. Pemerintahan ini berkuasa selama 2 abad dan menganut aliran Syiah bahkan syiah dijadikan sebagai madzhab kerajaan.
Masa kejayaan dinasti ini terjadi pada kepemimpinan Syah Abbas (pemimpin ke-5). Hal ini ditandai dengan berkembangnya peradaban pertaniannya, sedangkan dalam bidang perdagangan sawafiyah sangat maju dengan menjadi penguasa jalur perdagangan antara barat dan timur. Dalam sector militernya Safawiyah berhasil mengalahkan pasukan usmaniyah yang ingin mengusai daerah kekuasaannya (Persia). Sedangkan peradaban seni dan arsitekturnya terbukti dengan berdirinya Istana Ali dan berbagai bangunan seperti Masjid yang sangat indah. Dalam bidang pendidikannya Safawiyah juga maju, hal ini terbukti dengan banyaknya lembaga-lembaga pendidikan serta lahirnya beberapa ilmuwan seperti Bahaudin al-Amili (generalis ilmu pengetahuan), Sadr al-Din al-Syirazi (filsafat), dan Muhammad Baqir (filsafat, teologi, dan sejarah).
Setelah dua abad berkuasa akhirnya dinasti ini hancur ketika masa pemerintahan Abbas III (1732-1736). Adapun runtuhnya kerajaan ini disebabkan oleh beberapa alasan diantaranya adalah merasuknya sikap hedonis kepada para pemerintah yang mengakibatkan konflik antar saudara untuk merebut kekuasaan, lemahnya militer yang didominasi oleh budak, pemaksaan madzab kepada rakyat, serangan daulah usmaniyah, dan serangan tentara suku Afghan.
daulah safawiyah adalah salah satu kerajaan islam besar setelah dinasti abbasiyah, jumlah kerajaan islam setelah daulah abbasiyah sangatlah banyak. dan yang terbesar salah satunya adalah daulah safawiyah, selain itu adalah daulah mughal dan sutsmaniyah. untuk mengetahui sejarah ketiga kerajaan islam tersebut bisa di klik disini, daulah mughaldaulah utsmaniyah
READ MORE - Daulah Safawiyah, Tiga Kerajaan Besar Islam Pasca Dinasti Abbasiyah (II) belajar komputer

Daulah Utsmaniyah, Tiga Kerajaan Besar Islam Pasca Dinasti Abbasiyah (I)



Adalah sebuah kesultanan yang terletak di Istanbul Turki. Daulah ini didirikan oleh Utsman bin Artogol dari Dinasti Turki Seljuk Rum yang memerdekakan diri pada abad 14 M. Dinasti ini merupakan salah satu dinasti turki Seljuk yang mempunyai kekusaan pada masa pemerintahan Daulah Abbasiyyah. Kesultanan ini berhasil memimpin peradaban selama 6 abad lebih dengan kekuasaannya yang  meliputi Asia, Afrika, dan Eropa.
Masa kejayaan utsmaniyah berada pada masa kepemimpinan Sulaiman I (1520-1566), kejayaan ini tidak bisa lepas dari peranan daerah-daerah kekuasaannya. Hal ini ditandai dengan sistem ekonomi dan keilmuan  yang diadopsi dari bangsa Arab, norma dan etika diadopsi dari kebudayaan Persia, serta pemerintahan dan kemiliteran yang diadopsi dari Byzantium Romawi. Dalam pemerintahannya terbentuk Undang-undang yang disebutMultaqa al- Abhur dan kesatuan militernya disebut dengan Jenissari atau inkisyariah. Sayangnya daulah ini kurang memperhatikan bidang keilmuan yang mengakibatkan tidak adanya ilmuwan yang menonjol lahir dari Daulah Utsmaniyah.
Pada abad 20 M Dinasti Utsmaniyah hancur. Adapun kehancurannya disebabkan oleh beberapa hal, yaitu luasnya wilayah, tidak cakapnya pemimpin,  lemahnya semangat prajurit Jenissari dan hasutan Dinasti Bani Mamalik dari Mesir yang berujung pada pemberontakan, serta bangkitnya bangsa Eropa yang diawali dari renainsance. Setelah daulah ini hancur dilanjutkan dengan Republik Turki (1924) yang dipelopori oleh Mustafa Kemal Atarturk dengan mengadopsi system pemerintahan Barat dan menghapus kesultanan.
daulah utsmaniyah adalah salah satu kerajaan islam besar setelah dinasti abbasiyah, jumlah kerajaan islam setelah daulah abbasiyah sangatlah banyak. dan yang terbesar salah satunya adalah daulah utsmaniyah, selain itu adalah daulah mughal dan safawiyah. untuk mengetahui sejarah ketiga kerajaan islam tersebut bisa di klik disini, daulah mughal, daulah safawiyah
READ MORE - Daulah Utsmaniyah, Tiga Kerajaan Besar Islam Pasca Dinasti Abbasiyah (I) belajar komputer
Sunday, December 16, 2012

Politiknya NU, Muhammadiyah, Perikatan Umat Islam, Dan Persatuan Umat Islam Ya Masyumi


‎1.‎ Masjumi
Posisi Umat Islam pasca kemerdekaan tidaklah menguntungkan dibandingkan ‎mereka para kaum nasionalis. Hal ini terbukti sedikitnya jumlah kalangan Islam yang ‎berperan di dalam BPUUPKI dan PPKI ‎. Dengan alasan inilah para Ulama dulu sepakat ‎untuk mendirikan patai yang mewakili suara umat islam.‎
Cikal bakal partai ini adalah MIAI (Majlis Islam ‘Ala Indonesia) yang didirikan ‎pada 21 September 1937 suatu badan federasi Islam yang diirikan oleh KH Mas Mansur ‎‎(Muhammadiyah), KH Abdul Wahhab Chasbullah (NU), KH Achmad Dachlan (Non ‎organisasi)‎ ‎. Namun ketika 8 November Organisasi ini telah mendeklerasikan sebagai partai ‎yang menjadi wadah politik umat Islam pada masa pasca kemerdekaan.‎
Mulanya ada empat organisasi yang masuk ke dalam wadah politik ini yaitu ‎Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama, Perikatan Ummat Islam, dan Persatuan Ummat Islam. ‎Namun semakin lama organisasi politik ini banyak di dukun oleh organisasi Islam lainnya ‎seperti Persatuan Islam dari Bandung, Al-Irsyad dari Jakarta, Al-Jamiyatul Washilayah dari ‎Sumatera Utara, dan Al-Ittihadiyah dari Sumatera. Semakin kokohlah persatuan umat islam ‎pada waktu itu ‎.‎
Partai ini berkembang di seluruh Nusantara kecuali daerah-daerah yang memang ‎Islam belum berkembang seperti Bali (HIndu), Flores dan Timor (Katolik), dan Batak, ‎Toba, serta Manado (Protestan). Kemajuan dalam anggota disebabkan karena Masjumi ‎merupakan Partai politik yang di dalamnya terdiri dari organisasi masyarakat islam yang ‎ada pada waktu itu seperti Muhammadiyah dan NU yang merupakan organisasi islam besar ‎di Indonesia. Selain itu faktor yang menyebabkan partai ini berkembang adalah peranan ‎Ulama atau Kyai setempat, serta ukhuwah islamiyah yang relatif tinggi pada masa sesudah ‎revolusi. Meskipun banyak anggota yang tidak mengetahui dengan dalam tentang dasar ‎dan cita-cita perjuangan Masjumi. Merka hanya mengetahui bahwa Masjumi merupakan ‎partai yang berideologi Islam.‎ 
Masjumi sangat berperan dalam keberlangsungan pemerintahan Indonesia. Adanya ‎masjumi di Indonesia bisa dikatakan sebagai semangat orang Islam Indonesia untuk ‎menjadikan negara Islam di Indonesia. Hal ini dapat di di lihat di dalam program ‎perjuangan Masjumi yang terbagi menjadi enam yaitu sebagai berikut
‎1.‎ Kenegaraan
Masjumi memperjuangkan terbentuknya negara hukum menurut Islam dengan ‎bentuk Republik. Partai ini mengharapkan negara menjamin keselamatan jiwa dan ‎benda setiap orang dan kebebasan beragama.‎
‎2.‎ Perekonomian
Masjumi mengharapkan dan memperjuangkan perekonomian yang diatur ‎berdasarkan ekonomi terpimpin. Perencanaan produksi dan distribusi penting bagi ‎kesejahteraan rakyat. Di dalam cita-citanya Masjumi mengharapkan perlindungan ‎kepada para petani dan menghapuskan sisterm tuan tanah
‎3.‎ Keungan
Masjumi menganggap perlu dikeluarkan undang-undang Bank (swasta maupun ‎asing). Selain itu juga penarikan pajak kepada masyarakat juga diharapkan tidak ‎melampaui kekuatan masyarakat.‎
‎4.‎ Sosial
Masjumi menginginkan supaya pemerintah memperhatikan serikat-serikat buruh.  ‎Masyarakat juga perlu dibantu di dalam mengasuh anak yatim piatu. Selain itu ‎masjumi berharap penyempurnaan undang-undang perburuhan agar lebih ‎memperhatikan jaminan sosial (kecelakaan, hari tua, penyakit, dan pengangguran)‎
‎5.‎ Pendidikan dan Kebudayaan
Masjumi membela pendidikan islam agar mendapatkan perhatian pemerintah. ‎Karena pada waktu itu sekolah-sekolah Islam tidak pernah tersinggunf oleh negara.‎
‎6.‎ Politik Luar Negeri
Politik luar negeri hendaknya mempertahankan kedamaian dunia serta menjalin ‎persahabatan dengan semua bangsa terutama dengan negara yang berasaskan ‎ketuhanan dan demokrasi. Masjumi juga dengan tegas menentang adanya ‎penjajahan.‎
‎7.‎ Irian Barat
Irian Barat merupakan tuntunan Nasional selama ia belum masuk ke dalam wilayah ‎Indonesia.‎ 

READ MORE - Politiknya NU, Muhammadiyah, Perikatan Umat Islam, Dan Persatuan Umat Islam Ya Masyumi belajar komputer

Teori Sosial Umat Islam Indonesia (Nusantara)


sebelum mengenal kebudayaan islam di indonesia yang sekarang, ada baiknya kita mengetahui umat islam di nusantara (jawa). dalam tulisan ini must wildan mau berbagi dengan keadaan sosial umat islam indonesia pada masa sebelum kemerdekaan, pra kemerdekaan dan setelah kemerdekaan. meskipun demikian teori ini juga masih berlaku untuk umat islam pada masa sekarang, yang katanya sudah orang neo atau apa ternyata juga gak beda dengan para pendahulunya.
Ketika masa penjajahan rakyat Indonesia telah digolongkan. Seperti halnya pendapat Clifford Geertz yang membagi Umat Islam di Jawa kepada tiga golongan yaitu Santri, abangan, dan priyayi. Adapun penjelasan ketiga golongan itu sebagai berikut.

1.      Santri
Istilah santri berasal dari Bahasa India, yang merupakan pusat agama Hindu adalah Sastri yang berarti orang yang mengetaahui isi dari kitab-kitab suci agama Hindu. Kata ini merupakan turunan dari akar kata Sastra yang berarti kitab suci. Jadi bisa dikatan santri adalah Ulama umat Hindu. Tetapi ketika santri dilekatkan kepada umat islam maka santri berubah menjadi orang yang menganut Islam dengan taat dan patuh.
Memang sebelum Islam datang ke tanah Jawa mayoritas penduduk Jawa beragama Hindu dan Budha. Namun ketika islam datang ke Jawa/Nusantara (untuk mengetahui awal masuknya islam di nusantara klik saja). tidak serta-merta dengan menghapus budaya jawa, yang memang merupakan ritual dari umat Agama Hindu dan Budha. Islam datang ke Jawa dengan tangan terbuka siapa saja boleh masuk ke dalamnya. Tidak sampai di sini, para penyebar islam di jawa juga tidak mengharamkan atau menghilangkan budaya yang ada. Para ulama berusaha menyatukan kebudayaan jawa yang memang didominasi ajaran hindu daan Budha dengan ajaran dan sariat Islam.
Dari segi sosial, kaum santri merupakan golongan ekonomi menengah di tanah jawa. Biasanya mereka adaalah para pedagang pribumi atau saudagar-saudagar dari tanah india. Mereka hidup layak dan juga dihormati oleh pemerintahan kolonial Belanda maupun Jepang. Kaum santri ditinjau dari segi religious merupakan umat islam yang mengetahui tentang islam dan menjalankannya dengan ikhlas tanpa adanaya keterpaksaan.
Dalam membahas peran santri dalam ranah kekuatan social politik di Indonesia,  sangat perlu kita meninjau zaman terakhir kekuasan penjajahan zaman Belanda yang ditandai oleh pertumbuhan kesadaran diri secara politik senbagai hasil perubahan-perubahan social dan ekonomi. Dampak pendidikan gaya barat serta gagasan-gagasan aliran pembaruan Islam dari Mesir. Zaman ini disebut dengan masa kebangkitan nasional yang dimulai pada pergantian abad.
Akibat datangnya pemikiran-pemikiran dari Mesir. Banyak tumbuh pergerakan-pergerakan politik yang dilakukan oleh kaum santri. Gerakan Sarekat Islam, Muhammadiyah, Nadlatul Ulama adalah perhimpunan yang diprakarsai oleh kaum santri di tabah Jawa. Semua organisasi memimpikan kemerdekaan bagi tanah nusantara.
Pentingnya arti santri secara politis pada dasarnya berasal dari kenyataan bahwa dalam Islam, batas antara agama dan politik sangat tipis sekali. Islam merupakan Agama sekaligus sebagai pandangan hidup. Banyak kejadian yang tertulis di dalam sejarah membuktikan bahwa islam dan politik telah terjalin satu sama lain sejak proses pengislaman.
Dengan lahirnya organisasi agama ini, maka terlahirlah tokoh-tokoh islam yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia seperti H.O.S. Tjokroaminoto, H. Agus Salim, K.H. Hasyim Asyari, K.H. Wachid Hasjim, K.H. Ahmad Dahlan, Nuhammad Natsir, Muhammad Hatta, dan lain sebagainya. Semua orang ini memperjuangkan kemerdekaan dengan menggunakan semangat Islam.
Di dalam memperjuangkan semangat kebangsaannya golongan santri membentuk partai-partai islam seperti Masjumi, Perti, SI, dan NU yang pada dasarnya merupakan organisasi sosial-religius.
2.      Abangan
Dari perspektif social mereka adalah golongan terbanyak yang ada di Indonesia. Adalah salah satu komunitas masyarakat yang ada di Jawa. Golongan ini terdiri dari orang-orang desa yang mata pencahariannya adalah bertani. Kaum ini merupakan yang terpinggirkan dari pemerintah. Mereka menjalankan islam tetapi islam yang telah mengalami senkritisasi. Seperti yang banyak dikatakan oleh ahli sosiologi adalah Islam Jawa. Mereka masih mempercayai roh-roh yang tinggal di benda keramat seperti keris dan akik. Tidak hanya keris dan akik pohon-pohon yang telah berumur sangat tua mereka agungkan.
Orang-orang abangan di Indonesia dalam memperjuangkan kemerdekaan mereka mendirikan perhimpunan Budi Utomo, Partai Komunis Indonesia, Taman Siswa, dan Partai Nasional Indonesia. Adapun tokoh-tokoh yang ada dalam organisasi-organisai ini adalah Dr. Tcipto Mangunkusumo, Tan Malaka, Sutan Sjahrir, Mohammad Roem, Ki Hadjar Dewantara, Ir. Soekarno, Semaun, dan masih banyak yang lain Mereka memperjuangkan rakyat-rakyat kecil seperti petani guna mencapai kemerdekaan dan hidup yang layak di tanah air sendiri.

3.      Priyayi
Golongan ini mencakup para anggota dinas administratif yaitu birokrasi pemerintah serta para cendekiawan yang berpendidikan akademis. Kedekatannya dengan pemerintah kolonial membuat mereka mendapatkan perlakuan yang lebih, tidak seperti halnya kaum santri dan Abangan. Hal ini terbukti dengan hanya diterimanya para kaum Priyayi ke dalam sekolahan Belanda pada waktu itu, baik menjadi murid ataupun sebagai pengurus sekolahan tersebut.
Komunitas ini tidak berperan ketika perang kemerdekaan dan revolusi. Hal ini disebabkan mereka adalah anak buah para kolonial Belanda maupun Jepang.


READ MORE - Teori Sosial Umat Islam Indonesia (Nusantara) belajar komputer

Nabi Muhammad SAW Wafat, Mau Tahu Sebabnya?

bagi umat islam, mendengar kematian nabinya tentu sangat menyakitkan. seseorang yang selalu membimbing, memberikan pedoman kehidupan, dan memberikan larangan ketika berbuat salah. sebagai manusia tentu beliau juga mati wafat atau mati layaknya manusia. yang jadi pertanyaan must wildan apakah sebab atau alasan yang menyebabkan Nabi terakhir umat islam ini wafat.
ketika mencari-cari data must wildan menemukan keterangan bahwa Nabi wafat diracun oleh anaknya, benarkah begitu? untuk menjawab alasan ini dari berbagai golongan islam telah banyak memberikan penjelasan dan argumennya masing-masing. must wildan lebih baik memilih diam untuk kebenaran wafatnya Nabi muhammmad karena di racun anaknya.
kemungkinan sebab kedua yang must wildan dapatkan adalah karena nabi jatuh sakit, terbaring, dan akhirnya wafat atau mati. yang jadi pertanyaan. penyakit apa yang diderita nabi muhammad saw?. jawabannya tunggu dulu ya,,,,
dan kemungkinan yang ketiga karena memang sudah waktunya nabi muhammad saw wafat, umur di dunianya telah habis, dan nyawanya telah dicabut oleh Allah SWT. pendapat ketiga ini must wildan membenarkan dan meyakininya.


READ MORE - Nabi Muhammad SAW Wafat, Mau Tahu Sebabnya? belajar komputer

Teori dan Fakta Islam Masuk Indonesia, Benarkah Seperti Ini?


Setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW pada tahun 632 M (sebab nabi wafat klik disini), kepemimpinan Islam dipegang oleh para khalifah. Dibawah kepemimpinan para khalifah, agama Islam mulai disebarkan lebih luas lagi. Sampai abad ke-8 saja, pengaruh Islam telah menyebar ke seluruh Timur Tengah, Afrika Utara, dan Spanyol. Kemudian pada masa dinasti Ummayah, pengaruh Islam mulai berkembang hingga Nusantara.

Sejarah mencatat, kepulauan-kepulauan Nusantara merupakan daerah yang terkenal sebagai penghasil rempah-rempah terbesar di dunia. Hal tersebut membuat banyak pedagang dari berbagai penjuru dunia datang ke Nusantara untuk membeli rempah-rempah yang akan dijual kembali ke daerah asal mereka. Termasuk para pedagang dari Arab, Persia, dan Gujarat. Selain berdagang, para pedagang muslim tersebut juga berdakwah untuk mengenalkan agama Islam kepada penduduk lokal.


Teori-Teori Masuknya Islam ke Indonesia

Menurut beberapa sejarawan, agama Islam baru masuk ke Indonesia pada abad ke-13 Masehi yang dibawa oleh para pedagang muslim. Meskipun begitu, belum diketahui secara pasti sejak kapan Islam masuk ke Indonesia karena para ahli masih berbeda pendapat mengenai hal tersebut. Setidaknya ada tiga teori yang mencoba menjelaskan tentang proses masuknya Islam ke Indonesia yaitu teori Mekkah, teori Gujarat, dan teori Persia.
Teori Gujarat, Teori yang dipelopori oleh Snouck Hurgronje ini menyatakan bahwa agama Islam baru masuk ke Nusantara pada abad ke-13 Masehi yang dibawa oleh para pedagang dari Kambay (Gujarat), India.

Teori Persia, Teori ini dipelopori oleh P.A Husein Hidayat. Teori Persia ini menyatakan bahwa agama Islam dibawa oleh para pedagang dari Persia (sekarang Iran) karena adanya beberapa kesamaan antara kebudayaan dan sosial masyarakat Islam Indonesia dengan Persia.klik disini untuk mengetahui sosial nusantara

Teori Mekkah, Teori ini adalah teori baru yang muncul untuk menyanggah bahwa Islam baru sampai di Indonesia pada abad ke-13 dan dibawa oleh orang Gujarat. Teori ini mengatakan bahwa Islam masuk ke Indonesia langsung dari Mekkah (arab) sebagai pusat agama Islam sejak abad ke-7. Teori ini didasari oleh sebuah berita dari Cina yang menyatakan bahwa pada abad ke-7 sudah terdapat sebuah perkampungan muslim di pantai barat Sumatera.

Sebuah batu nisan berhuruf Arab milik seorang wanita muslim bernama Fatimah Binti Maemun yang ditemukan di Sumatera Utara dan diperkirakan berasal dari abad ke-11 juga menjadi bukti bahwa agama Islam sudah masuk ke Indonesia jauh sebelum abad ke-13.

Proses Masuknya Islam di Indonesia

Proses masuknya islam ke Indonesia dilakukan secara damai dengan cara menyesuaikan diri dengan adat istiadat penduduk lokal yang telah lebih dulu ada. Ajaran-ajaran Islam yang mengajarkan persamaan derajat, tidak membeda-bedakan si miskin dan si kaya, si kuat dan si lemah, rakyat kecil dan penguasa, tidak adanya sistem kasta dan menganggap semua orang sama kedudukannya dihadapan Allah telah membuat agama Islam perlahan-lahan mulai memeluk agama Islam.

Proses masuknya Islam ke Indonesia dilakukan secara damai dan dilakukan dengan cara- cara sebagai berikut.
Melalui Cara Perdagangan

Indonesia dilalui oleh jalur perdagangan laut yang menghubungkan antara China dan daerah lain di Asia. Letak Indonesia yang sangat strategis ini membuat lalu lintas perdagangan di Indonesia sangat padat karena dilalui oleh para pedagang dari seluruh dunia termasuk para pedagang muslim. Pada perkembangan selanjutnya, para pedagang muslim ini banyak yang tinggal dan mendirikan perkampungan islam di Nusantara. Para pedagang ini juga tak jarang mengundang para ulama dan mubaligh dari negeri asal mereka ke nusantara. Para ulama dan mubaligh yang datang atas undangan para pedagang inilah yang diduga memiliki salah satu peran penting dalam upaya penyebaran Islam di Indonesia.

Melalui Perkawinan

Bagi masyarakat pribumi, para pedagang muslim dianggap sebagai kelangan yang terpandang. Hal ini menyebabkan banyak penguasa pribumi tertarik untuk menikahkan anak gadis mereka dengan para pedagang ini. Sebelum menikah, sang gadis akan menjadi muslim terlebih dahulu. Pernikahan secara muslim antara para saudagar muslim dengan penguasa lokal ini semakin memperlancar penyebaran Islam di Nusantara.

Melalui Pendidikan

Pengajaran dan pendidikan Islam mulai dilakukan setelah masyarakat islam terbentuk. Pendidikan dilakukan di pesantren ataupun di pondok yang dibimbing oleh guru agama, ulama, ataupun kyai. Para santri yang telah lulus akan pulang ke kampung halamannya dan akan mendakwahkan Islam di kampung masing-masing.

Melalui Kesenian

Wayang adalah salah satu sarana kesenian untuk menyebarkan islam kepada penduduk lokal. Sunan Kalijaga adalah salah satu tokoh terpandang yang mementaskan wayang untuk mengenalkan agama Islam. Cerita wayang yang dipentaskan biasanya dipetik dari kisah Mahabrata atau Ramayana yang kemudian disisipi dengan nilai-nilai Islam.
READ MORE - Teori dan Fakta Islam Masuk Indonesia, Benarkah Seperti Ini? belajar komputer