Sunday, December 16, 2012

Teori Sosial Umat Islam Indonesia (Nusantara)


sebelum mengenal kebudayaan islam di indonesia yang sekarang, ada baiknya kita mengetahui umat islam di nusantara (jawa). dalam tulisan ini must wildan mau berbagi dengan keadaan sosial umat islam indonesia pada masa sebelum kemerdekaan, pra kemerdekaan dan setelah kemerdekaan. meskipun demikian teori ini juga masih berlaku untuk umat islam pada masa sekarang, yang katanya sudah orang neo atau apa ternyata juga gak beda dengan para pendahulunya.
Ketika masa penjajahan rakyat Indonesia telah digolongkan. Seperti halnya pendapat Clifford Geertz yang membagi Umat Islam di Jawa kepada tiga golongan yaitu Santri, abangan, dan priyayi. Adapun penjelasan ketiga golongan itu sebagai berikut.

1.      Santri
Istilah santri berasal dari Bahasa India, yang merupakan pusat agama Hindu adalah Sastri yang berarti orang yang mengetaahui isi dari kitab-kitab suci agama Hindu. Kata ini merupakan turunan dari akar kata Sastra yang berarti kitab suci. Jadi bisa dikatan santri adalah Ulama umat Hindu. Tetapi ketika santri dilekatkan kepada umat islam maka santri berubah menjadi orang yang menganut Islam dengan taat dan patuh.
Memang sebelum Islam datang ke tanah Jawa mayoritas penduduk Jawa beragama Hindu dan Budha. Namun ketika islam datang ke Jawa/Nusantara (untuk mengetahui awal masuknya islam di nusantara klik saja). tidak serta-merta dengan menghapus budaya jawa, yang memang merupakan ritual dari umat Agama Hindu dan Budha. Islam datang ke Jawa dengan tangan terbuka siapa saja boleh masuk ke dalamnya. Tidak sampai di sini, para penyebar islam di jawa juga tidak mengharamkan atau menghilangkan budaya yang ada. Para ulama berusaha menyatukan kebudayaan jawa yang memang didominasi ajaran hindu daan Budha dengan ajaran dan sariat Islam.
Dari segi sosial, kaum santri merupakan golongan ekonomi menengah di tanah jawa. Biasanya mereka adaalah para pedagang pribumi atau saudagar-saudagar dari tanah india. Mereka hidup layak dan juga dihormati oleh pemerintahan kolonial Belanda maupun Jepang. Kaum santri ditinjau dari segi religious merupakan umat islam yang mengetahui tentang islam dan menjalankannya dengan ikhlas tanpa adanaya keterpaksaan.
Dalam membahas peran santri dalam ranah kekuatan social politik di Indonesia,  sangat perlu kita meninjau zaman terakhir kekuasan penjajahan zaman Belanda yang ditandai oleh pertumbuhan kesadaran diri secara politik senbagai hasil perubahan-perubahan social dan ekonomi. Dampak pendidikan gaya barat serta gagasan-gagasan aliran pembaruan Islam dari Mesir. Zaman ini disebut dengan masa kebangkitan nasional yang dimulai pada pergantian abad.
Akibat datangnya pemikiran-pemikiran dari Mesir. Banyak tumbuh pergerakan-pergerakan politik yang dilakukan oleh kaum santri. Gerakan Sarekat Islam, Muhammadiyah, Nadlatul Ulama adalah perhimpunan yang diprakarsai oleh kaum santri di tabah Jawa. Semua organisasi memimpikan kemerdekaan bagi tanah nusantara.
Pentingnya arti santri secara politis pada dasarnya berasal dari kenyataan bahwa dalam Islam, batas antara agama dan politik sangat tipis sekali. Islam merupakan Agama sekaligus sebagai pandangan hidup. Banyak kejadian yang tertulis di dalam sejarah membuktikan bahwa islam dan politik telah terjalin satu sama lain sejak proses pengislaman.
Dengan lahirnya organisasi agama ini, maka terlahirlah tokoh-tokoh islam yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia seperti H.O.S. Tjokroaminoto, H. Agus Salim, K.H. Hasyim Asyari, K.H. Wachid Hasjim, K.H. Ahmad Dahlan, Nuhammad Natsir, Muhammad Hatta, dan lain sebagainya. Semua orang ini memperjuangkan kemerdekaan dengan menggunakan semangat Islam.
Di dalam memperjuangkan semangat kebangsaannya golongan santri membentuk partai-partai islam seperti Masjumi, Perti, SI, dan NU yang pada dasarnya merupakan organisasi sosial-religius.
2.      Abangan
Dari perspektif social mereka adalah golongan terbanyak yang ada di Indonesia. Adalah salah satu komunitas masyarakat yang ada di Jawa. Golongan ini terdiri dari orang-orang desa yang mata pencahariannya adalah bertani. Kaum ini merupakan yang terpinggirkan dari pemerintah. Mereka menjalankan islam tetapi islam yang telah mengalami senkritisasi. Seperti yang banyak dikatakan oleh ahli sosiologi adalah Islam Jawa. Mereka masih mempercayai roh-roh yang tinggal di benda keramat seperti keris dan akik. Tidak hanya keris dan akik pohon-pohon yang telah berumur sangat tua mereka agungkan.
Orang-orang abangan di Indonesia dalam memperjuangkan kemerdekaan mereka mendirikan perhimpunan Budi Utomo, Partai Komunis Indonesia, Taman Siswa, dan Partai Nasional Indonesia. Adapun tokoh-tokoh yang ada dalam organisasi-organisai ini adalah Dr. Tcipto Mangunkusumo, Tan Malaka, Sutan Sjahrir, Mohammad Roem, Ki Hadjar Dewantara, Ir. Soekarno, Semaun, dan masih banyak yang lain Mereka memperjuangkan rakyat-rakyat kecil seperti petani guna mencapai kemerdekaan dan hidup yang layak di tanah air sendiri.

3.      Priyayi
Golongan ini mencakup para anggota dinas administratif yaitu birokrasi pemerintah serta para cendekiawan yang berpendidikan akademis. Kedekatannya dengan pemerintah kolonial membuat mereka mendapatkan perlakuan yang lebih, tidak seperti halnya kaum santri dan Abangan. Hal ini terbukti dengan hanya diterimanya para kaum Priyayi ke dalam sekolahan Belanda pada waktu itu, baik menjadi murid ataupun sebagai pengurus sekolahan tersebut.
Komunitas ini tidak berperan ketika perang kemerdekaan dan revolusi. Hal ini disebabkan mereka adalah anak buah para kolonial Belanda maupun Jepang.


No comments:

Post a Comment